Kemulian Madinah

 Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Yang pertama, hadirin sekalian, kita harus sadar bahwa kita ini dipilih oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Dari sekian miliar umat Nabi Muḥammad ﷺ, hanya sedikit yang diberi kesempatan untuk datang ke Madinah dan berada dekat dengan Rasulullah ﷺ.

Dan ketahuilah — kehadiran kita di Madinah ini bukan karena harta, jabatan, atau kemampuan kita sendiri.
Semata-mata karena panggilan Rasulullah ﷺ.
Sebagian salafus-ṣāliḥ mengatakan:

“Tidak ada seorang pun yang hadir di suatu majelis kecuali karena orang yang di majelis itu memang menginginkannya.”

Apalagi Rasulullah ﷺ.
Kita sering mendengar para ḥabīb berkata:

“Tidak ada seorang pun yang datang ke Madinah kecuali karena panggilan Nabi Muḥammad ﷺ.”

Berapa banyak orang yang kaya raya, mampu pergi ke mana saja di dunia — tetapi tidak pernah sampai ke Madinah.
Maka ini adalah nikmat besar yang wajib kita syukuri.


1️⃣ Nikmat Waktu dan Tempat

Yang kedua, kita diberi nikmat berada di tempat dan waktu yang mulia, malam Jumat, di kota Madinah.
Para ulama menyebutkan bahwa Allah melipatgandakan pahala karena empat sebab:

  1. Syaraf al-Makān (Kemuliaan tempat):
    Seperti beribadah di Masjid Nabawi, Masjidil Haram, atau Baitul Maqdis — pahalanya tidak sama dengan tempat lain.

  2. Syaraf az-Zamān (Kemuliaan waktu):
    Seperti beribadah di bulan-bulan mulia — Rajab, Dzulqa‘dah, Dzulḥijjah, Muḥarram, atau di bulan Ramadan, bahkan bulan kelahiran Rasulullah ﷺ, Rabi‘ul Awwal.

  3. Syaraf an-Niyyah (Kemuliaan niat):
    Satu amal bisa bernilai besar karena niatnya banyak.
    Misalnya, seseorang masuk Masjid Nabawi dengan niat i‘tikaf, ziarah, dan menuntut ilmu — maka setiap niat mendapat pahala tersendiri.

  4. Syaraf al-‘Ilm (Kemuliaan ilmu):
    Amal yang dilakukan dengan ilmu, pahalanya jauh lebih besar daripada yang dilakukan tanpa ilmu.
    Maka, meskipun umrah hanya sekali, usahakan dilakukan dengan ilmu dan kesempurnaan.


2️⃣ Syukur Atas Nikmat

Setiap nikmat harus kita syukuri — baik dari arah ketaatan maupun dari keadaan (fi‘il) yang Allah berikan.
Contohnya, berada di bulan Rabi‘ul Awwal dan di depan makam Rasulullah ﷺ — itu nikmat besar.
Kita memohon kepada Rasulullah dengan adab, sebagaimana diajarkan para ulama:

“Jika engkau ziarah ke Rasulullah, ucapkan:
As-salāmu ‘alaika yā Sayyidī yā Rasūlallāh.

Ada kisah yang sering disebut para ḥabīb tentang seseorang yang selama 25 tahun setiap malam bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ.
Suatu malam ia tidak lagi melihat Rasulullah, lalu ia menangis dan bertanya kepada gurunya, Habib Zain.

Habib Zain kemudian memberi amalan:
Tulislah dan bacalah setiap hari,

As-salāmu ‘alaika yā Sayyidī yā Rasūlallāh.

Orang itu pun mengamalkannya setiap hari, hingga suatu malam Rasulullah ﷺ datang dalam mimpinya dan bersabda:

“Tiga hari yang lalu aku datang ke rumah si Fulan di Jeddah. Di sana ada televisi yang menayangkan wajah perempuan terbuka. Karena itu aku tidak datang kepadamu.”

Dari kisah ini kita belajar: jaga adab dan pandangan agar hati tetap bersih menerima cahaya Rasulullah ﷺ.


3️⃣ Bukti Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Kita sering mengatakan cinta kepada Nabi ﷺ — itu bagus, tetapi pernyataan cinta harus ada buktinya.
Setiap kali datang bulan Rabi‘ul Awwal, setiap kali hadir majelis maulid, harus ada perubahan dalam diri kita.

Misalnya:

  • Setiap bangun tidur, biasakan membaca:

    Al-ḥamdu lillāh alladzī aḥyānā ba‘da mā amātanā wa ilaihin-nusyūr.

  • Setiap masuk dan keluar kamar mandi, baca doa.

  • Setiap keluar rumah, ucapkan Bismillāh, tawakkaltu ‘alallāh.

Kalau belum terbiasa, wajibkan diri untuk memulai.
Sedikit demi sedikit, amalan kecil ini akan menumbuhkan keberkahan hidup.


4️⃣ Lima Amalan di Haramain Syarifain

Kata para ḥabīb, ada lima amalan utama yang selayaknya dikerjakan di dua tanah suci, Makkah dan Madinah:

  1. Khatm Al-Qur’an
    Selesaikan 30 juz, lalu hadiahkan pahalanya kepada Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, sahabat, dan ahli Madinah.

  2. Dzikir “Lā ilāha illallāh” sebanyak 70.000 kali
    Setelah selesai, hadiahkan pahalanya kepada Rasulullah ﷺ.
    (Setiap kalimat di Masjid Nabawi dilipatgandakan seribu kali pahalanya.)

  3. Doa dan sedekah untuk orang tua
    Apalagi yang sudah wafat — mereka sangat membutuhkan kiriman doa dan amal anak-anaknya.

  4. Membaca Surat Al-Ikhlāṣ seribu kali
    Jika mampu, sepuluh ribu kali lebih utama.

  5. Ṣalāt al-Unṣ (ṣalat dua rakaat untuk orang tua yang sudah wafat)
    Disebut dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah karya Imam Al-Jardani:
    Siapa yang mengerjakannya, maka Allah akan mengutus seribu malaikat untuk menemani ruh orang tuanya sampai hari kiamat.


5️⃣ Janji di Depan Rasulullah ﷺ

Hadirin sekalian, mari kita buat janji di depan Rasulullah ﷺ.
Janji untuk menjaga pandangan, menjaga amal, dan menambah ibadah.
Jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Gunakan waktu di Madinah sebaik mungkin — jangan disia-siakan dengan hal yang melalaikan.
Bahkan di kamar hotel, kalau ada televisi, lebih baik matikan dan isi waktu dengan dzikir.

Karena siapa yang menjaga adab di hadapan Rasulullah ﷺ, insyaAllah akan mendapatkan pandangan penuh kasih dari beliau di dunia dan akhirat.


Penutup:
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menetapkan kita sebagai hamba yang selalu bersyukur, mencintai Rasulullah ﷺ dengan bukti nyata, dan termasuk orang-orang yang mendapat syafaat beliau di hari kiamat.

Āmīn yā Rabbal-‘Ālamīn.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WASIAT HABIB ZEIN BIN SMITH

Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid